Pandangan Materialistis Terhadap Kehidupan Dunia dan Bahaya-bahanya

 

the_way_of_the_salafDalam hal ini, akan saya salinkan secara ringkas bagaimana dua sudut pandang dalam melihat dunia, dari kitab 'At-Tauhid Lish Shfis Tsalis Al-Ali (Kitab Tauhid 3) oleh Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, Darul Haq, hal.71-76.

Ada dua sudut pandang terhadap kehidupan dunia, Pertama ; Pandangan Materialistis dan Kedua ; Pandangan yang benar. Masing-masing sudut pandang tersebut memiliki pengaruhnya tersendiri.

Makna Pandangan Materialistis Terhadap Dunia

Yaitu pemikiran yang hanya terbatas pada bagaimana mendapatkan kenikmatan sesaat di dunia, sehingga apa yang diusahakannya hanya seputar masalah tersebut. Pikirannya tidak melampui hal tersebut, ia tidak memperdulikan akibat-akibatnya, tidak pula berbuat dan memperhatikan masalah tersebut. Ia tidak mengetahui bahwa Allah menjadikan dunia ini sebagai ladang akhirat. Allah menjadikan dunia ini sebagai kampung beramal dan akhirat sebagai kampung balasan. Maka barangsiapa mengisi dunianya dengan amal shalih, niscaya ia mendapatkan keberuntungan di dua kampung tersebut. Sebaliknya barangsiapa menyia-nyiakan dunianya, niscaya ia akan kehilangan akhiratnya.

Allah berfirman.

"Artinya : Rugilah di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata". [Al-Hajj : 11]

"Artinya : Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah diantara mereka yang terbaik perbuatannya" [Al-Kahfi : 7]

Diantara manusia -dan jumlah mereka mayoritas- ada yang menyempitkan pandangannya hanya pada lahiriah dan kenikmatan-kenikamatan dunia semata. Mereka memuaskan nafsunya dengan berbagai hal tersebut dan tidak merenungkan rahasia di balik itu. Karenanya, mereka sibuk untuk mendapatkan dan mengumpulkan dunia dengan melupakan amal untuk sesudah mati.

Allah mengancam orang yang memiliki pandangan seperti ini terhadap dunia, sebagaimana firman-Nya.

"Artinya : Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali Neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan" [Huud : 15-16]

Ancaman di atas berlaku bagi semua yang memiliki pandangan materialistis tersebut, baik mereka yang melakukan amal akhirat, tapi menghendaki kehidupan dunia, seperti orang-orang munafik, orang-orang yang berpura-pura dengan amal perbuatan mereka atau orang-orang kafir yang tidak percaya terhadap adanya Kebangkitan dan Hisab (Perhitungan Amal).

Termasuk pandangan materialistis terhadap kehidupan dunia ini adalah apa yang disebutkan Allah dalam Al-Qur'an dalam kisah Qarun dan kekayaan yang diberikan kepadanya. Allah berfirman.

"Artinya : Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, 'Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun, sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar" [Al-Qashash : 79]

Mereka mengangan-angankan dan mengingikan memiliki kekayaan seperti Qarun seraya menyifatinya telah mendapatkan keberuntungan yang besar, yakni berdasarkan pandangan mereka yang materialistis.

Hal ini seperti keadaan sekarang di negara-negara kafir yang memiliki kemajuan di bidang teknologi industri dan ekonomi, lalu umat Islam yang lemah imannya memandang mereka dengan pandangan kekaguman tanpa melihat kekufuran mereka serta apa yang bakal menimpa mereka dari kesudahan yang buruk. Pandangan yang salah ini lalu mendorong mereka mengagungkan orang-orang kafir dan memuliakan mereka dalam jiwa mereka serta menyerupai mereka dalam tingkah laku dan kebiasaan-kebiasaaan mereka yang buruk.

Pandangan yang Benar Terhadap Kehidupan

Yaitu pandangan yang menyatakan bahwa apa yang ada di dunia ini, baik harta, kekuasaan dan kekuatan materi lainnya hanyalah sebagai sarana untuk amal akhirat. Karena itu, pada hakikatnya dunia bukanlah tercela karena dirinya, tetapi pujian dan celaan itu tergantung pada perbuatan hamba di dalamnya. Dunia adalah jembatan penyebrangan menuju akhirat dan daripadanya bekal menuju Surga. Dan kehidupan baik yang diperoleh penduduk Surga tidak lain kecuali berdasarkan apa yang telah mereka tanam ketika di dunia. Maka dunia adalah kampung jihad, shalat, puasa dan infak di jalan Allah, serta medan laga untuk berlomba dalam kebaikan. Allah berfirman kepada para penduduk Surga.

"Artinya : (Kepada mereka dikatakan), 'Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu (ketika di dunia)" [Al-Haqqah : 24] (*)

Kemudian, seperti apa yang ditanyakan diatas ; yaitu masalah hakekat do'a bagi orang Islam, adalah merupakan suatu ibadah. Memperbanyak do'a baik dalam keadaan sempit maupun lapang menjadi sunnah para Nabi dan Rasul mulai dari Nabi Adam 'alaihi salam hingga Nabi Muhammad Shallaalhu 'alaihi wa sallam.

Akan tetapi banyak di antara manusia melakukan kesalahan dan kekeliruan dalam berdo'a, serta tidak mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Sehingga kesalahan dan kekeliruan bisa menjadi sebab tidak dikabulkannya do'a seseorang.

Dan, kita tidak boleh berprasangka buruk kepada Allah, dengan sebab 'merasa belum terkabulnya do'a'. Apa itu 'Prasangka Buruk'.??ikutilah pembahasannya yang saya salin dari kitab 'Jahalatun Nas Fid Du'a (Kesalahan Dalam Berdo'a) oleh Ismail bin Marsyud bin Ibrahim Ar-Rumaih, Darul Haq, hal. 14-17.

Buruk Sangka Kepada Allah

Berburuk sangka kepada Allah merupakan bukti kelemahan iman dan bodohnya seseorang terhadap hak Allah serta tidak memberi pengagungan kepadaNya dengan sebaik-baik pengagungan. Sebagian orang menyangka Allah sebagaimana menyangka makhluq, bahwa Allah tidak akan mampu mengabulkan segala keinginannya sehingga dia tidak memohon kepada Allah kecuali sedikit sekali. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka sangka.

Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata : "Jadilah", maka terjadilah. Dia Maha Mulia memberi segala sesuatu kepada semua hambaNya hingga kepada hamba yang durhaka sekalipun. Sebaiknya seseorang harus berbaik sangka kepada Allah dan memohon kepadaNya segala sesuatu serta jangan menganggap ada sesuatu yang sulit bagi Allah. Allah Maha Kuasa mengabulkan permohonan hambaNya.

Sebuah hadits dari Abu Dzar Radhiallahu 'anhu bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Allah berfirman wahai hambaKu seandainya orang terdahulu dan sekarang baik dari jin maupun manusia berkumpul di satu tempat, kemudian mereka semua memohon kepadaKu dan Aku kebulkan seluruh permohonan mereka, maka demikian itu tidak mengurangi sama sekali perbendaharaanKu melainkan seperti berkurangnya air laut tatkala jarum dicelupkan kedalamnya" [Hadits Riwayat Muslim, kitab Al-Bir bab Tahrim Zhulm 8/16-17]

Dari Aisyah Radhiallahu 'anha bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Berharaplah yang banyak karena sesungguhnya kamu meminta kepada Tuhanmu" [Syarh Sunnah oleh Imam Al-Baghwai 5/208 No. 1403. Al-Haitsami dalam Majam' Az-Zawaid. Thabrani dalam Al-Ausath 10/150]

Imam Al-Baghawi Rahimahullah berkata bahwa maksudnya adalah berharap dalam hal yang mubah baik tentang urusan dunia atau akhirat. Hendaknya setiap keluhan, permohonan dan harapan diajukan kepada Allah sebagaimana firmanNya.

"Artinya : Dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karuniaNya" [An-Nisa : 32]

Bukan berarti kita boleh berharap mendapatkan harta atau nikmat orang lain dengan unsur hasad dan dengki. Jelas ini dilarang Allah, seperti firman Allah.

"Artinya : Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain" [An-Nisaa : 32]

Dari Abu Hurairah Radhiallahu anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Jika kalian berdoa perbanyaklah keinginannya, sebab Allah tidak menganggap besar terhadap pemberianNya" [Musnad Imam Ahmad 2/475, Imam Thabrani dalam kitab Do'a]

Hadits diatas menurut Al-Banna dalam kitab Fathur Rabbani bahwa setiap orang yang berdo'a harus disertai dengan permohonan yang sungguh-sungguh dan meng-iba atau memohon sesuatu yang banyak lagi besar berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Sebab Allah tidak menganggap besar terhadap pemberianNya". Artinya sebesar apapun Allah pasti akan mengabulkannya. [Fathur Rabbani 14/274]

[Alhamdulillah..., untuk lebih jelas dan lengkapnya silakan miliki dan baca kedua buku tersebut, adapun ringkasan yang saya salinkan mudah-mudahan bisa menjawab apa yang ditanyakan atau setidaknya menambah ilmu dari sisi yang lainnya khususnya bagi diri saya sendiri. wallahu 'alam]

Tidak ada komentar:

Catatan:
Untuk menyisipkan video, gunakan tag <i rel="youtube">URL YOUTUBE ANDA...</i>
Untuk menyisipkan gambar, gunakan tag <i rel="image">URL GAMBAR ANDA...</i>
Untuk menyisipkan kode, gunakan tag <i rel="code">KODE ANDA...</i>
Untuk menyisipkan kode panjang, gunakan tag <i rel="pre">KODE ANDA...</i>
Untuk menyisipkan catatan, gunakan tag <b rel="quote">CATATAN ANDA...</b>
Untuk menciptakan efek tebal gunakan tag <strong>TEKS ANDA...</strong>

NB: Jika ingin menuliskan kode pada komentar harap gunakan Tool untuk mengkonversi kode tersebut agar kode bisa muncul dan jelas atau gunakan tool dibawah "Konversi Kode di Sini!"

Jika ingin menuliskan komentar yang keluar dari topik pada artikel ini silahkan kehalaman OOT (out of topic) dengan menekan tombol OOT di bawah ini.

Konversi Kode di Sini!OOT

 
Design by Juned al~Bughisy Copyright © 2012 ~ 2013 Powered by Blogger
Back to Top